sajak ambu

satu kali ambu pernah berpesan, alangkah bijak pesan dia hingga entah kenapa aku menjulukinya sebuah “sajak”, padahal pribadi akupun tak paham penjelasan apa itu sajak yang sesungguhnya.

satu kali ambu berkata. . . ya, ambu, tapi kau boleh panggil dia suka-suka hati mu, kau boleh panggil dia Mamak, Ibu, kah Bunda, pun semacamnya. ia tak peduli.

ini dia yang ambu katakan padaku tempo hari, hari lalu-lalu, entah berapa puluh purnama berlalu.

nak pulanglah esok hari, esok-esok entah kapan tahun, sesukamu.

ingatlah nak hal ini baik-baik dalam tetes darah dan uap peluhmu

jika ombak akan selalu kembali ke laut, tak peduli seberapa keras ia mengikis karang, menerjang bibir pantai

karena ia bagian dari samudra.

nak, pulanglah tak peduli seberapa jauhpun kau tersasar, jalan pulang akan selalu ada

lekaslah kembali kemudian hari

tapakkan jejakmu di setiap tempat mata mu memandang

karena kelak itulah petunjuk arahmu untuk kembali pulang

pulang kemanapun tempat yang kau sebut “rumah”

pergilah nak, aku akan selalu menunggumu

itulah pesan ambu, mungkin itu bukan sajak, tapi di kemudian hari kalimat-kalimat ambu yang akan menuntunku pulang

ke rumah

Advertisements

ombak rindu

wahai ombak,
telapak ku memang tak ada di genggaman mu saat ini

tapi aku mohon

gulunglah rasa rinduku yang menghujani padang tandus hati ini

bawalah dia

rangkul ia dalam ketidaktahuannya

menuju tepian yang fana

jangan!

jangan kembalikan rindu itu!

jangan juga ubah dia menjadi mendung – mendung kenangan

aku tak lagi membutuhkannya

ruang hatiku tak cukup luas menampungnya

ombak bersiaplah

rindu ini akan kuberikan padamu

sekarang juga

melalui akar rimba, setapak tanah, dan sepoi angin

semoga cepat sampai