d i a –

dia

orang yang kamu paksa agar terus bersama mu

apakah ia bahagia?

apakah ia nyaman saat kau genggam jemarinya?

apakah ia merasa hangat saat kau rengkuh bahunya?

apakah ia merasa sempurna saat beriringan dengan mu?

apakah ia tersenyum saat kau berbicara?

apakah matanya berbinar saat ia menatap wajah mu?

apakah hatinya luluh saat melihat peluh mu?

apakah ia merasa bebas saat berada di dekat mu?

apakah hatinya merasa ringan saat mendengar suara mu?

apakah ia merasa benar-benar bahagia saat bersamamu?

benarkah bahagia?

aku rasa ia tak betul-betul bahagia

dia, bukan aku

Advertisements

kabari aku

walau rasa tak lagi ada

kadang,

aku rindu bagaimana celotehanmu bisa menggerus lukaku hingga hapus

kadang,

aku lupa kau jugalah yang telah menggelindingkan bola luka yang masih terus merayap di dinding sanubari ini

kadang

aku lupa

cintamu tak abadi

katanya . . .

katanya, cintai dirimu dulu agar kau dicintai orang lain

nyatanya, bohong

katanya, sampaikan apa yang ingin kau sampaikan agar kau tak terbebani

nyatanya, sulit

katanya, lihatlah kebahagian yang ada disekelilingmu dan lupakan masa lalumu

nyatanya, omong kosong

katanya, hidup itu dibawa senang jangan dibawa sulit

nyatanya, mustahil

katanya, tersenyum dapat merubah hari mu menjadi berwarna

nyatanya, tak masuk akal

katamu, kau mencintaiku

nyatanya, kau pergi begitu saja.

satu

“Siapa yang menang antara cinta sekuat tulang dan ego selembut kapas?” Si A bertanya.

“Tentu saja cinta, jelas ia lebih kuat. Kekuatan cinta tidak bisa didefinisikan karena ia bisa mengalahkan semuanya,” Si B menjawab pasti.

“Kau salah,” Ujar Si A

Wajah Si B berubah teruk “Maksudmu?”

“Tentu saja ego yang menang,” Si A berujar kalem.

“Aku tak yakin, A, tapi mengapa?” Si B mulai terheran.

Karena cinta itu tidak ada Si A menjawab sepelan semilir angin

satu rasa

ada satu rasa yang tak pernah tersampaikan

satu rasa yang mengambang hampa bagai beban di relung tulang

satu rasa yang terhalang dinding ego sekuat baja, setinggi langit, dan sedalam tanah

yang tak bisa tersampaikan karena gengsi dan rasa tak karuan

satu rasa yang mengikat jantung hingga berdebar hebat!

satu saja

hanya satu

rindu ini biarlah dibawa semilir angin!

biarlah rindu ini berpijak pada sebidang tanah tanpa arah!

biarlah rindu ini memutar mengitari angan

membayang esok lusa bagai tahun 90-an

biarkanlah rindu ini mendarah daging membungkus tulang!

mengikuti setiap arah aliran darah

biarkan saja rindu ini tumbuh terus hingga laut surut!

menyesakkan dunia walau ia tak bernafas

biarkanlah rindu ini menjadi beban di bahuku

karena aku tak sanggup mengatakan betapa rindunya aku padamu.