d i a –

dia

orang yang kamu paksa agar terus bersama mu

apakah ia bahagia?

apakah ia nyaman saat kau genggam jemarinya?

apakah ia merasa hangat saat kau rengkuh bahunya?

apakah ia merasa sempurna saat beriringan dengan mu?

apakah ia tersenyum saat kau berbicara?

apakah matanya berbinar saat ia menatap wajah mu?

apakah hatinya luluh saat melihat peluh mu?

apakah ia merasa bebas saat berada di dekat mu?

apakah hatinya merasa ringan saat mendengar suara mu?

apakah ia merasa benar-benar bahagia saat bersamamu?

benarkah bahagia?

aku rasa ia tak betul-betul bahagia

dia, bukan aku

Advertisements

kabari aku

walau rasa tak lagi ada

kadang,

aku rindu bagaimana celotehanmu bisa menggerus lukaku hingga hapus

kadang,

aku lupa kau jugalah yang telah menggelindingkan bola luka yang masih terus merayap di dinding sanubari ini

kadang

aku lupa

cintamu tak abadi

satu

“Siapa yang menang antara cinta sekuat tulang dan ego selembut kapas?” Si A bertanya.

“Tentu saja cinta, jelas ia lebih kuat. Kekuatan cinta tidak bisa didefinisikan karena ia bisa mengalahkan semuanya,” Si B menjawab pasti.

“Kau salah,” Ujar Si A

Wajah Si B berubah teruk “Maksudmu?”

“Tentu saja ego yang menang,” Si A berujar kalem.

“Aku tak yakin, A, tapi mengapa?” Si B mulai terheran.

Karena cinta itu tidak ada Si A menjawab sepelan semilir angin