kabari aku

walau rasa tak lagi ada

kadang,

aku rindu bagaimana celotehanmu bisa menggerus lukaku hingga hapus

kadang,

aku lupa kau jugalah yang telah menggelindingkan bola luka yang masih terus merayap di dinding sanubari ini

kadang

aku lupa

cintamu tak abadi

satu

“Siapa yang menang antara cinta sekuat tulang dan ego selembut kapas?” Si A bertanya.

“Tentu saja cinta, jelas ia lebih kuat. Kekuatan cinta tidak bisa didefinisikan karena ia bisa mengalahkan semuanya,” Si B menjawab pasti.

“Kau salah,” Ujar Si A

Wajah Si B berubah teruk “Maksudmu?”

“Tentu saja ego yang menang,” Si A berujar kalem.

“Aku tak yakin, A, tapi mengapa?” Si B mulai terheran.

Karena cinta itu tidak ada Si A menjawab sepelan semilir angin

satu rasa

ada satu rasa yang tak pernah tersampaikan

satu rasa yang mengambang hampa bagai beban di relung tulang

satu rasa yang terhalang dinding ego sekuat baja, setinggi langit, dan sedalam tanah

yang tak bisa tersampaikan karena gengsi dan rasa tak karuan

satu rasa yang mengikat jantung hingga berdebar hebat!

satu saja

hanya satu

rindu ini biarlah dibawa semilir angin!

biarlah rindu ini berpijak pada sebidang tanah tanpa arah!

biarlah rindu ini memutar mengitari angan

membayang esok lusa bagai tahun 90-an

biarkanlah rindu ini mendarah daging membungkus tulang!

mengikuti setiap arah aliran darah

biarkan saja rindu ini tumbuh terus hingga laut surut!

menyesakkan dunia walau ia tak bernafas

biarkanlah rindu ini menjadi beban di bahuku

karena aku tak sanggup mengatakan betapa rindunya aku padamu.